Hukuman fisik berupa pukulan, tabokan, bahkan tamparan kadang masih dijadikan "senjata" bagi orangtua untuk mendisiplinkan anak. Padahal hukuman fisik bisa memberi dampak jangka panjang yang sangat negatif. Bekas luka di tubuh mungkin bisa hilang, tapi bekas luka di jiwa anak akan memberi pengaruh besar pada tumbuh kembangnya.
Hukuman fisik bisa menghadirkan malapetaka pada kehidupan anak. Mengutip buku The Danish Way of Parenting, analisis terbaru yang setara dengan riset dua dekade pada efek jangka panjang tentang hukuman fisik pada anak-anak menyimpulkan bahwa tabokan tidak hanya tidak berhasil, tetapi itu benar-benar bisa mendatangkan malapetaka bagi anak-anak pada perkembangan jangka panjang. Studi ini menemukan, tanpa memperhatikan usia atau ukuran sampel dari anak-anak, tidak ada satu pun dari lebih dari delapan puluh penelitian yang berhasil menemukan kaitan positif pada hukuman fisik.
Anak-anak yang pernah mengalami hukuman fisik bisa berisiko mengalami depresi. Harga diri mereka pun bisa terluka. Hukuman fisik bisa memicu masalah kesehatan mental pada anak. Anak-anak yang pernah mendapat hukuman fisik bisa berisiko mengalami kecemasan bahkan terjerumus pada penggunaan narkoba dan kecanduan alkohol.